Rabu, 22 Februari 2012

Hafalan Shalat Delisa

Diposkan oleh Layka Meyshera di 04.02

Hafalan Shalat Delisa

            Delisa adalah gadis kecil yang tinggal di sebuah keluarga kecil.  Dia anak sulung dari empat bersaudara. Dia tinggal bersama saudara dan umminya di Aceh. Sedangkan abinya bekerja di luar negri. Jarang sekali pulang.
                Suatu ketika dia dijanjikan oleh umminya apabila dia mampu menghafal shalat dengan baik, maka umminya akan memberikan hadiah kalung. Delisa pun semangat untuk hafalan, teapi masih juga hafalannya terbalik-balik. Tetapi kakak kembar Delisa, Zahra, tak begitu suka melihat Delisa disayang oleh umminya apalagi sampai dibelikan kalung. Zahra selalu iri dengan apa yang didapat oleh Delisa. Merekapun juga sering bertengkar. Tetapi kakak bungsunya, Fatimah, selalu melerai kedua adiknya itu ketika bertengkar.
                “Yang liontinnya berinisial “D” ada tidak?”
                “Oh, ada, tunggu sebentar, Cik carikan dulu, ya Delisa.” setelah Delisa menunggu akhirnya ada juga yang berinisial “D”.
                “Wow, ini bagus sekali, Ummi.” dengan wajah yang sangat ceria dan bahagia.
                “Tapi, kalung ini ummi berikan pada Delisa kalau Delisa sudah lulus ujian shalatnya, ya.” Wajah Delisa pun menjadi sedikit muram. Sebenarnya Delisa ingin sekali segera memakai kalung itu.
                Suatu hari abi Delisa menelfon rumah. Delisa dan saudaranya pun berkumpul untuk mendengar suara abinya. Dan ketika itu abinya berjanji kepada Delisa akan memberikan sebuah sepeda apabila dia sudah lulus ujian hafalan shalat. Dia pun semakin girang dan bersemangat untuk menghafal shalat. Tetapi disisi lain ternyata Zahra menangis menyayat hati. Dia iri dengan Delisa. Tetapi umminya selalu memberikan pengertian kepada Zahra supaya tidak iri dengki terhadap sesama saudaranya, adiknya sendiri.
                Hari ini Delisa sudah menyiapakan segalanya untuk menempuh ujian. Umminya juga sudah siap untuk menemaninya dan selalu memberikan dukungan, begitu juga dengan ketiga saudaranya, termasuk Zahra yang sudah mulai sayang kepada Delisa. Ketika umminya dan Delisa hendak mengambil kalung yang disimpan di almari, tiba-tiba saja mereka merasakan gempa yang kuat di dalam rumah. Bersama Delisa, umminya segera keluar dari rumah. Keluarga kecil itupun berkumpul di depan rumah. Ketika gempa sudah redaDelisa dan umminya tetap pergi ke sekolah. Sedangkan Fatimah dirumah bersama adiknya Zahra dan Aisyah.
                Dengan niat bismillahirrohmanirrohim, Delisa pun mulai praktek shalat. Diuji oleh ustazdnya, ustadz Fathir, dan seorang gurunya. Diluar sana umminya memberikan dukungan penuh pada Delisa. Sambil memperlihatkan kalungnya pada Delisa, Delisa pun tersenyum. Sayang sekali, belum sampai setengah dia praktek shalat. Tiba-tiba gempa itu datang lagi. Yang sekarang terasa lebih kuat. Semua orang pun bingung kalang kabut, termasuk ummi Delisa. Tetapi Delisa tetap melanjutkan praktek shalatnya karena dia ingat dengan kata ustadznya,“Jika kamu shalat, ada kejadian apapun diluar sana, kamu harus tetap konsentrasi pada shalat”. Sampai-sampai Delisa pun tak menghiraukan teriakan umminya. Hinnga akhirnya dia terhempas oleh tsunami. Termakan oleh air bersama juga dengan Tiur, salah satu sahabatnya.
                Delisa terdampar di tempat yang asing baginya. Sudah dua hari ini dia tergeletak di atas batu besar dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Dia terkejut ketika melihat Tiur terbujur kaku tak berdaya disampingnya. Untungnya dia menemukan apel pada saat itu. Tapi sayang sekali tak ada orang yang menemukannya. Sedangkan abinya bingung mencari keluarganya setelah mendengar berita Tsunami.
            Sampai empat hari Delisa baru ditemukan oleh tim SAR dari Amerika, Smith. Akhirnya dia langsung membawa Delisa ke rumahsakit. Delisa dirawat oleh Shofie. Sayang sekali ternyata luka kaki Delisa terlalu parah hingga harus diamputasi. Delisa pikir kakinya hilang terbawa air. Hingga kini dia harus menggunakan kursi roda untuk mengantar dia kemana-mana. Smith dan Shofie begitu sayang pada Delisa. Bahkan Smith ingin mengambil Delisa menjadi anaknya dan membawanya ke Amerika. Tetapi sayangnya ketika itu abi Delisa sudah menemukannya. Delisa dan abinya sangat bahagia, tetapi Smith sempat sedih karena kesempatannya untuk memiliki Delisa sudah hilang.
                Aceh kini sudah tak seindah dulu lagi. Bahkan rumah Delisa sudah hanyut terbawa air tinggal puing-puingnya saja. Kak Fatimah, Kak Aisyah, dan Kak Zahra juga sudah meninggalkan Delisa. Umminya tak tahu hilang kemana. Kini Delisa tinggal hanya bersama abinya. Walaupun Delisa kehilangan saudaranya, bahkan kakinya. Dia sama sekali tak sedih. Ustadz Fathir selalu mengingatkan Delisa untuk ikhlas. Lagipula masih ada kak Smith, Kak Shofie, ustadz Fathir, dan abinya yang sangat sayang padanya. Delisa pun teringat pesan uminya bahwa dia harus mnyelesaikan hafalan shalatnya.
                Kali ini Delisa serius dengan hafalannya. Sekarang tidak lagi dia melakukannya hanya untuk mendapatkan hadiah kalung dari umminya. Tetapi dia benar-benar ingin shalat secara baik dan benar. Bahkan suatu hari dia bermimpi bertemu dengan umminya dan umminya memberikan kalung padanya. Tetapi Delisa menolaknya. “Aku tidak ingin kalung itu lagi, ummi. Yang aku ingin hanya shalat dengan baik supaya bisa mendoakan ummi di surga.”
                Hari ini Delisa praktek shalat untuk yang kedua kalinya. Kali ini bukan umminya lagi yang menemani dan mendukungnya, melainkan abinya. Dengan lancar dan baik dia mengahfal praktek shalatnya. Dan akhirnya ustadz Fathir menyatakan bahwa Delisa lulus ujian. Delisa dan abinya sangat bahagia. Akhirnya kini dia lulus dan akan bisa mendoakan untuk keluarga yang mereka sayang yang telah meninggalkannya.

(dikutip dari film Hafalan Shalat Delisa, 2011)

0 komentar on "Hafalan Shalat Delisa"

Poskan Komentar

Rabu, 22 Februari 2012

Hafalan Shalat Delisa

Diposkan oleh Layka Meyshera di 04.02

Hafalan Shalat Delisa

            Delisa adalah gadis kecil yang tinggal di sebuah keluarga kecil.  Dia anak sulung dari empat bersaudara. Dia tinggal bersama saudara dan umminya di Aceh. Sedangkan abinya bekerja di luar negri. Jarang sekali pulang.
                Suatu ketika dia dijanjikan oleh umminya apabila dia mampu menghafal shalat dengan baik, maka umminya akan memberikan hadiah kalung. Delisa pun semangat untuk hafalan, teapi masih juga hafalannya terbalik-balik. Tetapi kakak kembar Delisa, Zahra, tak begitu suka melihat Delisa disayang oleh umminya apalagi sampai dibelikan kalung. Zahra selalu iri dengan apa yang didapat oleh Delisa. Merekapun juga sering bertengkar. Tetapi kakak bungsunya, Fatimah, selalu melerai kedua adiknya itu ketika bertengkar.
                “Yang liontinnya berinisial “D” ada tidak?”
                “Oh, ada, tunggu sebentar, Cik carikan dulu, ya Delisa.” setelah Delisa menunggu akhirnya ada juga yang berinisial “D”.
                “Wow, ini bagus sekali, Ummi.” dengan wajah yang sangat ceria dan bahagia.
                “Tapi, kalung ini ummi berikan pada Delisa kalau Delisa sudah lulus ujian shalatnya, ya.” Wajah Delisa pun menjadi sedikit muram. Sebenarnya Delisa ingin sekali segera memakai kalung itu.
                Suatu hari abi Delisa menelfon rumah. Delisa dan saudaranya pun berkumpul untuk mendengar suara abinya. Dan ketika itu abinya berjanji kepada Delisa akan memberikan sebuah sepeda apabila dia sudah lulus ujian hafalan shalat. Dia pun semakin girang dan bersemangat untuk menghafal shalat. Tetapi disisi lain ternyata Zahra menangis menyayat hati. Dia iri dengan Delisa. Tetapi umminya selalu memberikan pengertian kepada Zahra supaya tidak iri dengki terhadap sesama saudaranya, adiknya sendiri.
                Hari ini Delisa sudah menyiapakan segalanya untuk menempuh ujian. Umminya juga sudah siap untuk menemaninya dan selalu memberikan dukungan, begitu juga dengan ketiga saudaranya, termasuk Zahra yang sudah mulai sayang kepada Delisa. Ketika umminya dan Delisa hendak mengambil kalung yang disimpan di almari, tiba-tiba saja mereka merasakan gempa yang kuat di dalam rumah. Bersama Delisa, umminya segera keluar dari rumah. Keluarga kecil itupun berkumpul di depan rumah. Ketika gempa sudah redaDelisa dan umminya tetap pergi ke sekolah. Sedangkan Fatimah dirumah bersama adiknya Zahra dan Aisyah.
                Dengan niat bismillahirrohmanirrohim, Delisa pun mulai praktek shalat. Diuji oleh ustazdnya, ustadz Fathir, dan seorang gurunya. Diluar sana umminya memberikan dukungan penuh pada Delisa. Sambil memperlihatkan kalungnya pada Delisa, Delisa pun tersenyum. Sayang sekali, belum sampai setengah dia praktek shalat. Tiba-tiba gempa itu datang lagi. Yang sekarang terasa lebih kuat. Semua orang pun bingung kalang kabut, termasuk ummi Delisa. Tetapi Delisa tetap melanjutkan praktek shalatnya karena dia ingat dengan kata ustadznya,“Jika kamu shalat, ada kejadian apapun diluar sana, kamu harus tetap konsentrasi pada shalat”. Sampai-sampai Delisa pun tak menghiraukan teriakan umminya. Hinnga akhirnya dia terhempas oleh tsunami. Termakan oleh air bersama juga dengan Tiur, salah satu sahabatnya.
                Delisa terdampar di tempat yang asing baginya. Sudah dua hari ini dia tergeletak di atas batu besar dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Dia terkejut ketika melihat Tiur terbujur kaku tak berdaya disampingnya. Untungnya dia menemukan apel pada saat itu. Tapi sayang sekali tak ada orang yang menemukannya. Sedangkan abinya bingung mencari keluarganya setelah mendengar berita Tsunami.
            Sampai empat hari Delisa baru ditemukan oleh tim SAR dari Amerika, Smith. Akhirnya dia langsung membawa Delisa ke rumahsakit. Delisa dirawat oleh Shofie. Sayang sekali ternyata luka kaki Delisa terlalu parah hingga harus diamputasi. Delisa pikir kakinya hilang terbawa air. Hingga kini dia harus menggunakan kursi roda untuk mengantar dia kemana-mana. Smith dan Shofie begitu sayang pada Delisa. Bahkan Smith ingin mengambil Delisa menjadi anaknya dan membawanya ke Amerika. Tetapi sayangnya ketika itu abi Delisa sudah menemukannya. Delisa dan abinya sangat bahagia, tetapi Smith sempat sedih karena kesempatannya untuk memiliki Delisa sudah hilang.
                Aceh kini sudah tak seindah dulu lagi. Bahkan rumah Delisa sudah hanyut terbawa air tinggal puing-puingnya saja. Kak Fatimah, Kak Aisyah, dan Kak Zahra juga sudah meninggalkan Delisa. Umminya tak tahu hilang kemana. Kini Delisa tinggal hanya bersama abinya. Walaupun Delisa kehilangan saudaranya, bahkan kakinya. Dia sama sekali tak sedih. Ustadz Fathir selalu mengingatkan Delisa untuk ikhlas. Lagipula masih ada kak Smith, Kak Shofie, ustadz Fathir, dan abinya yang sangat sayang padanya. Delisa pun teringat pesan uminya bahwa dia harus mnyelesaikan hafalan shalatnya.
                Kali ini Delisa serius dengan hafalannya. Sekarang tidak lagi dia melakukannya hanya untuk mendapatkan hadiah kalung dari umminya. Tetapi dia benar-benar ingin shalat secara baik dan benar. Bahkan suatu hari dia bermimpi bertemu dengan umminya dan umminya memberikan kalung padanya. Tetapi Delisa menolaknya. “Aku tidak ingin kalung itu lagi, ummi. Yang aku ingin hanya shalat dengan baik supaya bisa mendoakan ummi di surga.”
                Hari ini Delisa praktek shalat untuk yang kedua kalinya. Kali ini bukan umminya lagi yang menemani dan mendukungnya, melainkan abinya. Dengan lancar dan baik dia mengahfal praktek shalatnya. Dan akhirnya ustadz Fathir menyatakan bahwa Delisa lulus ujian. Delisa dan abinya sangat bahagia. Akhirnya kini dia lulus dan akan bisa mendoakan untuk keluarga yang mereka sayang yang telah meninggalkannya.

(dikutip dari film Hafalan Shalat Delisa, 2011)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Kumpulan Cerpen By Lay Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez